Beda orang Indonesia
Dunia persinetronan Indonesia sekarang ini telah terwarnai dengan sinetron-sinetron ‘adaptasi’. Entah sejak kapan budaya plagiarisme itu muncul, yang jelas diantara tayangan-tayangan televisi yang juga telah didominasi sinetron, 30 sinetron diantaranya merupakan sinetron adaptasi. (List lengkapnya dapat dilihat di http://nofieiman.com)
Kalau di Korea, Taiwan, Amerika dan beberapa negara yang telah maju dalam bidang pembuatan drama seri maupun perfilman, akhir-akhir ini para sutradara maupun penulis skenario mempunyai tren baru yakni menerjemahkan buku-buku best-seller atau komik-komik best-seller ke dalam tayangan yang dapat dinikmati di layar kaca. Contohnya dapat dilihat pada Princess Hours yang baru saja menikmati kepopuleran dan kejayaannya, Meteor Garden, Lord of The Ring, film-film Harry Potter yang setiap tahunnya ditunggu-tunggu penggemarnya dan masih banyak lagi.
Lain halnya dengan di Indonesia. Di Indonesia para sutradara dan penulis skenario berlomba-lomba untuk meng’adaptasi’ karya-karya laris drama seri berbahasa asing maupun film-film berbahasa asing ke dalam tayangan yang berbahasa indonesia. Sebut saja Buku Harian Nayla (Ichi Rittoru No Namida/1 Litre of Tears), Benci Bilang Cinta (Goong/Princess Hours) dan Intan (Be Strong Geum Soon).
Lalu, apa gunanya translator?
Lain lagi dengan dunia perkomputeran di negeri ini. Jika baru saja penduduk Jepang mengantri di toko-toko hanya untuk menunggu launching produk Microsoft terbaru yang bernama Windows Vista, di Indonesia sejak beberapa bulan lalu sudah tersebar versi trialnya. Weleh-weleh.
Ada apa dengan negeri ini?

berarti orang indonesia emang lebih sakti daripada orang jepang dan amerika
Gibran said this on March 16, 2007 at 1:57 am